Apa Arti dan Memahami Multazam dalam Rangkaian Ibadah Bersama Travel Haji dan Umroh

Kategori : Umrah, Tips, Haji, Features, Ditulis pada : 04 September 2026, 14:33:20

banner photo travel haji dan umroh.jpg

Photo by Dago Wisata

Bagi jamaah travel haji dan umroh, memahami bagian-bagian penting di sekitar Ka'bah menjadi salah satu bekal sebelum berangkat ke Tanah Suci. Selain Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim, terdapat Multazam yang sering menjadi tempat jamaah memanjatkan doa dengan penuh harap kepada Allah SWT.

Multazam berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Area ini memiliki kedudukan khusus dalam ibadah karena terdapat riwayat tentang Rasulullah SAW yang pernah mendekatkan diri dan berdoa di tempat tersebut. Karena itu, jamaah dapat memahami arti Multazam, mempelajari riwayatnya, menyiapkan doa, serta menjaga adab selama berada di sana.

Apa Itu Multazam?

Multazam merupakan bagian dinding Ka'bah yang berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Nama Multazam berkaitan dengan makna melekat atau menempel. Dalam praktiknya, jamaah sering menggunakan area tersebut untuk berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

ANTARA menjelaskan bahwa Multazam berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Tempat tersebut menjadi salah satu area yang banyak mendapat perhatian jamaah haji dan umroh ketika berada di Masjidil Haram.

Bagi jamaah travel haji dan umroh, mengetahui posisi Multazam sejak sebelum keberangkatan dapat membantu mengenali area penting di sekitar Ka'bah. Namun, jamaah tetap perlu memperhatikan kondisi kepadatan dan tidak memaksakan diri untuk mendekat.

Riwayat Rasulullah SAW di Multazam

Salah satu hal penting dalam memahami Multazam adalah mengetahui riwayat mengenai amalan Rasulullah SAW.

MUI menjelaskan riwayat dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhu yang menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW berada di Multazam. Abdullah bin Amr kemudian memperagakan apa yang ia lihat dari Rasulullah SAW dengan menempelkan dada, wajah, kedua lengan, serta membentangkan kedua telapak tangannya pada area tersebut. Riwayat ini tercantum dalam HR Abu Dawud.

Dalam riwayat tersebut disebutkan:

هكذا رَأيْتُ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَفعَلُه

Artinya:
"Beginilah aku melihat Rasulullah SAW melakukannya." (HR Abu Dawud).

Riwayat ini menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai Multazam. Jamaah yang memperoleh kesempatan dapat mendekat dan berdoa di sana apabila situasi memungkinkan.

Riwayat Ibnu Abbas tentang Multazam

Selain riwayat tentang perbuatan Rasulullah SAW, terdapat pula keterangan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu mengenai Multazam.

MUI mengutip riwayat tersebut dengan lafaz:

مَا بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْبَابِ يُدْعَى الْمُلْتَزَمَ لَا يَلْزَمُ مَا بَيْنَهُمَا أَحَدٌ يَسْأَلُ اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

Artinya:
"Area antara rukun dan pintu Ka'bah disebut Multazam. Tidaklah seseorang berdoa kepada Allah di tempat itu meminta sesuatu, kecuali Allah akan memberinya." (HR Baihaqi).

Keterangan ini menunjukkan perhatian para sahabat terhadap Multazam sebagai tempat untuk berdoa. Namun, jamaah tetap perlu memahami bahwa pengabulan doa merupakan kehendak Allah SWT. Karena itu, doa sebaiknya disertai keyakinan, ketundukan, dan kesabaran.

Apakah Ada Doa Khusus di Multazam?

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan jamaah travel haji dan umroh. Apakah Rasulullah SAW menetapkan satu doa khusus yang wajib dibaca di Multazam?

MUI menjelaskan bahwa tidak terdapat riwayat yang menetapkan satu doa khusus dari Rasulullah SAW untuk Multazam. Meski begitu, para ulama memberikan beberapa doa yang bisa jamaah baca ketika berada di tempat tersebut.

Dengan demikian, jamaah tidak perlu khawatir jika belum menghafal doa tertentu. Jamaah tetap dapat memohon kepada Allah menggunakan doa yang baik sesuai kebutuhannya.

Doa yang Dianjurkan di Multazam

Imam An-Nawawi memberikan perhatian terhadap doa di Multazam melalui kitab Al-Adzkar. Salah satu doa yang beliau sebutkan dapat dibaca ketika berada di Multazam.

Berikut bacaan doanya:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَكَ، وَيُكَافِئُ مَزِيْدَكَ، أَحْمَدُكَ بِجَمِيعِ مَحَامِدِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ عَلَى جَمِيعِ نِعَمِكَ مَا عَلِمْتُ مِنْهَا وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَعَلَى كُلِّ حَالٍ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ أَعِذْنِي مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَأَعِذْنِي مِنْ كُلِّ سُوءٍ، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي وَبَارِكْ لِي فِيهِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أَكْرَمِ وَفْدِكَ عَلَيْكَ، وَأَلْزِمْنِي سَبِيلَ الِاسْتِقَامَةِ حَتَّى أَلْقَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Artinya:

"Ya Allah, bagi-Mu segala puji, pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Mu dan setara dengan tambahan karunia-Mu. Aku memuji-Mu dengan seluruh pujian yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, atas seluruh nikmat-Mu yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, dalam segala keadaan.

Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Ya Allah, lindungilah aku dari setan yang terkutuk dan lindungilah aku dari segala keburukan. Jadikanlah aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku dan berkahilah rezeki tersebut.

Ya Allah, jadikanlah aku termasuk tamu-Mu yang paling mulia di sisi-Mu dan tetapkanlah aku di jalan istiqamah hingga aku berjumpa dengan-Mu, wahai Tuhan semesta alam."

Doa tersebut berisi pujian kepada Allah, permohonan perlindungan, keberkahan rezeki, serta permohonan agar tetap berada di jalan istiqamah.

Doa Saat Hendak Meninggalkan Ka'bah

Multazam juga mendapat perhatian khusus ketika jamaah hendak meninggalkan Makkah. Dalam pembahasan para ulama, Multazam berkaitan dengan doa ketika melakukan thawaf wada' atau thawaf perpisahan.

MUI mengutip keterangan dari Sa'id bin Jubair yang menganjurkan seseorang berdoa di Multazam ketika berpamitan dengan Baitullah.

Salah satu doa yang disebutkan dalam riwayat tersebut adalah:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَقَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ

Artinya:

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, jadikan aku merasa cukup dengan rezeki yang Engkau berikan kepadaku, berkahilah rezeki itu untukku, dan gantilah setiap sesuatu yang hilang dariku dengan kebaikan."

Doa tersebut sangat relevan bagi jamaah yang merasa berat meninggalkan Tanah Suci. Setelah menjalankan rangkaian ibadah, jamaah dapat memohon ampunan, keberkahan rezeki, serta kebaikan dalam perjalanan pulang.

Doa Lain yang Dapat Dipanjatkan

Karena tidak ada satu doa khusus yang wajib dibaca di Multazam, jamaah juga dapat memanjatkan doa pribadi.

Misalnya, jamaah dapat membaca:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban-naar.

Artinya:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka."

Jamaah juga dapat memohon kesehatan, ampunan dosa, keberkahan keluarga, rezeki yang halal, kemudahan dalam menjalankan ibadah, serta kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci.

Adab Berdoa di Multazam

Kesempatan berada di Multazam tentu menjadi momen yang berharga. Namun, jamaah travel haji dan umroh harus tetap menjaga adab.

Jangan Memaksakan Diri

Kepadatan di sekitar Ka'bah dapat berubah-ubah. Jika kondisi sangat ramai, jangan mendorong atau menarik jamaah lain demi mendapatkan posisi di Multazam.

Berdoa dari tempat yang aman tetap menjadi pilihan yang baik. Jangan sampai keinginan mendekati Multazam justru menimbulkan bahaya bagi diri sendiri atau orang lain.

Berdoa dengan Khusyuk

Jamaah dapat menggunakan waktu tersebut untuk mengingat Allah, memohon ampunan, dan menyampaikan harapan. Tidak perlu terburu-buru hanya untuk mengejar bacaan doa tertentu.

Mengikuti Arahan Pembimbing

Jamaah yang menggunakan travel haji dan umroh dapat mengikuti arahan pembimbing mengenai kondisi di Masjidil Haram. Pembimbing dapat membantu jamaah memahami rangkaian ibadah sekaligus mengingatkan adab ketika berada di tempat yang padat.

Multazam dalam Thawaf Wada'

Salah satu momen penting dalam pembahasan Multazam berkaitan dengan thawaf wada'. Imam Syafi'i menyebutkan dalam Al-Umm bahwa orang yang hendak meninggalkan Baitullah dianjurkan berdiri di Multazam, yaitu area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah.

Hal ini menunjukkan perhatian ulama terhadap Multazam ketika jamaah hendak berpamitan dengan Ka'bah.

Momen tersebut dapat menjadi waktu untuk melakukan introspeksi. Jamaah dapat mengenang kembali perjalanan ibadahnya, memohon kepada Allah agar menerima seluruh amal, serta berharap mendapat kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci.

Kesimpulan

Multazam merupakan area di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah yang memiliki tempat khusus dalam pembahasan ibadah haji dan umroh. Terdapat riwayat mengenai Rasulullah SAW yang menempelkan dada, wajah, kedua lengan, dan membentangkan kedua telapak tangannya di Multazam. Para ulama juga memberikan perhatian terhadap doa di tempat tersebut.

Jamaah travel haji dan umroh perlu memahami bahwa Rasulullah SAW tidak menetapkan satu doa khusus untuk Multazam. Jamaah dapat membaca doa yang dianjurkan oleh para ulama atau menyampaikan permohonan pribadi kepada Allah SWT. Hal yang terpenting adalah menjaga kekhusyukan, kesabaran, serta adab terhadap jamaah lain.

Jika Anda sedang mempersiapkan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, Dago Wisata siap membantu Anda memperoleh informasi seputar perjalanan haji dan umroh serta mempersiapkan berbagai kebutuhan sebelum keberangkatan. Kenali rangkaian ibadah sejak sebelum keberangkatan agar perjalanan menuju Baitullah berjalan lebih nyaman, tertib, dan penuh persiapan bersama Dago Wisata.

Lihat Sekarang: Paket Haji dan Paket Umrah Dago Wisata

Cari Blog

10 Blog Terbaru

10 Blog Terpopuler

Kategori Blog

built with : https://erahajj.co.id