Tawaf Wada: Makna dan Panduan untuk Jamaah Travel Haji dan Umroh

Photo by Dago Wisata
Bagi jamaah travel haji dan umroh, memahami setiap rangkaian ibadah sebelum meninggalkan Tanah Suci menjadi hal yang penting. Setelah menyelesaikan berbagai rangkaian ibadah di Makkah, jamaah akan memasuki momen terakhir sebelum meninggalkan kota suci tersebut. Salah satu amalan yang berkaitan dengan momen ini adalah tawaf wada.
Tawaf wada dikenal sebagai tawaf perpisahan. Jamaah melaksanakan tawaf ini ketika hendak meninggalkan Makkah sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Baitullah. Momen tersebut juga menjadi kesempatan bagi jamaah untuk kembali mengingat nikmat yang Allah SWT berikan selama berada di Tanah Suci.
Bagi jamaah travel haji dan umroh, mengetahui pengertian, hukum, tata cara, hingga doa tawaf wada dapat membantu mempersiapkan ibadah dengan lebih baik. Persiapan yang matang membuat jamaah dapat menjalankan rangkaian terakhir di Makkah dengan tenang dan penuh penghayatan.
Baca Juga: Mari Kita Mengenal Hijr Ismail di Sisi Ka'bah Sebagai Jamaah Travel Haji dan Umroh
Apa Itu Tawaf Wada?
Tawaf wada berasal dari kata wada yang berarti perpisahan. Secara sederhana, tawaf wada merupakan tawaf terakhir yang jamaah lakukan sebelum meninggalkan Kota Makkah.
Tawaf ini menjadi bentuk penghormatan kepada Baitullah setelah jamaah menyelesaikan rangkaian ibadahnya. Karena berlangsung menjelang keberangkatan, banyak jamaah mengenalnya sebagai tawaf perpisahan.
Tawaf wada dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran. Jamaah berjalan dengan posisi Ka'bah berada di sebelah kiri dan memulai tawaf dari arah Hajar Aswad.
Bagi jamaah travel haji dan umroh, pemahaman mengenai tawaf wada dapat membantu mempersiapkan rangkaian ibadah dengan lebih baik. Jamaah dapat mengetahui kapan tawaf berlangsung, bagaimana tata caranya, serta amalan apa saja yang dapat dilakukan selama berada di Masjidil Haram.
Makna Tawaf Wada bagi Jamaah
Tawaf wada memiliki makna yang cukup mendalam bagi jamaah. Setelah menjalani perjalanan panjang dan berbagai rangkaian ibadah di Tanah Suci, jamaah kembali mengelilingi Ka'bah sebelum meninggalkan Makkah.
Momen tersebut dapat menjadi kesempatan untuk merenungkan perjalanan ibadah yang telah dilalui. Jamaah juga dapat mengungkapkan rasa syukur karena Allah SWT memberikan kesempatan untuk berkunjung dan beribadah di Tanah Suci.
Bentuk Perpisahan dengan Baitullah
Tawaf wada menjadi kesempatan bagi jamaah untuk mengucapkan salam perpisahan kepada Baitullah. Perasaan haru sering muncul ketika jamaah menyadari bahwa perjalanan di Makkah segera berakhir.
Jamaah dapat menggunakan momen tersebut untuk mengingat berbagai nikmat selama berada di Tanah Suci. Selain itu, jamaah dapat memohon agar Allah SWT menerima seluruh ibadah dan memberikan kesempatan untuk kembali mengunjungi Baitullah.
Kesempatan Memanjatkan Doa
Selama melaksanakan tawaf wada, jamaah dapat memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan shalawat. Jamaah tidak perlu merasa harus menghafalkan banyak bacaan khusus untuk setiap putaran.
Jamaah dapat memanjatkan doa sesuai kebutuhan masing-masing. Permohonan tersebut dapat mencakup ampunan atas dosa, kesehatan, keselamatan perjalanan, keberkahan keluarga, serta kemudahan dalam menjalani kehidupan setelah kembali ke Tanah Air.
Jamaah juga dapat memohon agar Allah SWT menerima ibadah haji atau umroh dan memberikan kesempatan untuk kembali ke Tanah Suci pada masa mendatang.
Hukum Tawaf Wada
Hukum tawaf wada menjadi salah satu pembahasan dalam fikih yang memiliki perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Sebagian ulama dari mazhab Hanafi, Hanbali, dan sebagian ulama Syafi'i berpendapat bahwa tawaf wada memiliki hukum wajib bagi jamaah haji. Sementara itu, Imam Malik, Abu Dawud, Ibnu Mundzir, dan sebagian ulama Syafi'i lainnya memandang tawaf wada sebagai sunnah.
Perbedaan pendapat tersebut menunjukkan bahwa pembahasan tawaf wada memiliki landasan fikih yang perlu jamaah pahami dengan baik. Jamaah sebaiknya mengikuti bimbingan dari pembimbing ibadah atau ustaz yang mendampingi perjalanan.
Bagi jamaah travel haji dan umroh, konsultasi dengan pembimbing juga dapat membantu ketika jamaah menghadapi kondisi tertentu selama berada di Tanah Suci.
Bagaimana dengan Wanita yang Sedang Haid?
Wanita yang sedang mengalami haid mendapatkan keringanan untuk tidak melaksanakan tawaf wada. Ketentuan ini berkaitan dengan hadis mengenai Shafiyah RA yang mengalami haid ketika rombongan hendak meninggalkan Makkah.
Jamaah wanita yang mengalami kondisi tersebut sebaiknya berkonsultasi dengan pembimbing ibadah. Pembimbing dapat memberikan arahan sesuai kondisi jamaah dan pedoman fikih yang digunakan dalam rombongan.
Tata Cara Tawaf Wada
Secara umum, tata cara tawaf wada mengikuti pelaksanaan tawaf. Jamaah perlu memahami beberapa langkah berikut agar dapat menjalankannya dengan lebih tertib.
1. Mempersiapkan Diri
Sebelum menuju Masjidil Haram, jamaah perlu mempersiapkan kondisi fisik dan perlengkapan. Pastikan jamaah sudah bersuci dan mengenakan pakaian yang memenuhi ketentuan untuk melaksanakan tawaf.
Jamaah juga sebaiknya menyiapkan barang-barang perjalanan sebelum menuju Masjidil Haram. Langkah ini membantu jamaah agar tidak perlu melakukan banyak aktivitas setelah menyelesaikan tawaf wada.
2. Menuju Area Tawaf
Jamaah menuju area tawaf dan mengambil posisi untuk memulai putaran dari arah Hajar Aswad.
Jika kondisi memungkinkan, jamaah dapat mencium atau menyentuh Hajar Aswad. Namun, jamaah tidak perlu memaksakan diri ketika kondisi sangat ramai.
Memberikan isyarat ke arah Hajar Aswad juga dapat menjadi pilihan ketika jamaah tidak memungkinkan untuk mendekatinya. Keselamatan dan kenyamanan tetap perlu menjadi perhatian selama berada di tengah kepadatan jamaah.
3. Memulai Tawaf dari Hajar Aswad
Jamaah memulai tawaf dari posisi yang sejajar dengan Hajar Aswad. Setelah itu, jamaah berjalan mengelilingi Ka'bah dengan posisi Ka'bah berada di sebelah kiri.
Satu putaran berlangsung dari titik Hajar Aswad hingga kembali melewati titik tersebut. Jamaah kemudian melanjutkan putaran berikutnya sampai mencapai tujuh putaran.
4. Mengelilingi Ka'bah Sebanyak Tujuh Putaran
Jamaah menyelesaikan tujuh putaran mengelilingi Ka'bah. Jamaah dapat melakukan ramal pada tiga putaran pertama dengan berjalan lebih cepat jika kondisi memungkinkan. Pada empat putaran berikutnya, jamaah berjalan dengan langkah biasa.
Namun, jamaah tidak perlu memaksakan diri. Kepadatan area tawaf, usia, kondisi fisik, dan keselamatan jamaah lain tetap perlu menjadi pertimbangan.
Selama tujuh putaran, jamaah dapat memperbanyak zikir, istighfar, membaca Al-Qur'an, bershalawat, dan memanjatkan doa.
Tidak ada kewajiban untuk membaca satu doa tertentu pada setiap putaran. Jamaah dapat berdoa menggunakan bacaan yang dipahami dan sesuai dengan kebutuhannya.
5. Melaksanakan Salat Dua Rakaat
Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jamaah dapat melaksanakan salat sunnah dua rakaat jika memungkinkan.
Jamaah dapat melaksanakannya di belakang Maqam Ibrahim apabila kondisi memungkinkan. Jika area tersebut ramai, jamaah dapat memilih tempat lain yang aman dan tidak mengganggu pergerakan jamaah.
Jamaah tidak perlu memaksakan diri untuk berada di lokasi tertentu apabila kondisi Masjidil Haram sedang padat.
6. Bersiap Meninggalkan Makkah
Setelah menyelesaikan tawaf wada, jamaah bersiap meninggalkan Makkah. Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling mengharukan dalam perjalanan karena jamaah harus berpisah dengan Baitullah.
Jamaah sebaiknya sudah menyelesaikan kebutuhan perjalanan sebelum melaksanakan tawaf. Dengan begitu, setelah tawaf selesai jamaah dapat langsung mengikuti jadwal keberangkatan.
Jika jamaah perlu melakukan aktivitas tertentu karena kebutuhan mendesak, jamaah dapat berkonsultasi dengan pembimbing untuk mengetahui tindakan yang sesuai.
Bacaan dan Doa Tawaf Wada
Selama tawaf wada, jamaah tidak memiliki kewajiban untuk membaca doa tertentu pada setiap putaran. Jamaah dapat memperbanyak zikir dan doa sesuai kebutuhan.
Salah satu doa yang dapat jamaah baca dalam momen tawaf wada adalah:
اللَّهُمَّ فَأَصْحِبْنِيَ الْعَافِيَةَ فِي بَدَنِي، وَالْعِصْمَةَ فِي دِينِي، وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِي، وَارْزُقْنِي طَاعَتَكَ مَا أَبْقَيْتَنِي، وَاجْمَعْ لِي خَيْرَيِ الآخِرَةِ وَالدُّنْيَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Latin:
Allahumma fa-ashhibniyal-'aafiyata fii badanii, wal-'ishmata fii diinii, wa ahsin munqalabii, warzuqnii thaa'ataka maa abqaitanii, wajma' lii khairayil-aakhirati wad-dunyaa, innaka 'alaa kulli syai'in qadiir.
Artinya:
“Ya Allah, berilah aku keselamatan pada tubuhku, penjagaan dalam agamaku, perbaikilah kepulanganku, berilah aku rezeki berupa ketaatan kepada-Mu selama Engkau memberikan kehidupan kepadaku, dan kumpulkanlah untukku kebaikan akhirat dan dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Doa tersebut berisi permohonan agar Allah SWT memberikan keselamatan, menjaga agama, memperbaiki kehidupan, memberikan kemampuan untuk terus taat, serta memberikan kebaikan dunia dan akhirat.
Doa yang Dapat Dibaca Saat Tawaf
Jamaah juga dapat membaca doa yang terdapat dalam Al-Qur'an:
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Latin:
Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanatan wa fil-aakhirati hasanatan wa qinaa 'adzaaban-naar.
Artinya:
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.”
Selain membaca doa tersebut, jamaah dapat menyampaikan permohonan pribadi kepada Allah SWT. Jamaah dapat memohon agar perjalanan pulang berjalan lancar, keluarga mendapat perlindungan, ibadah mendapat penerimaan, serta Allah SWT kembali memberikan kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Setelah Tawaf Wada?
Setelah menyelesaikan tawaf wada, jamaah sebaiknya fokus pada persiapan meninggalkan Makkah.
Beberapa hal yang dapat jamaah perhatikan antara lain:
- Memastikan seluruh barang bawaan sudah siap.
- Memeriksa kembali dokumen perjalanan.
- Mengikuti arahan pembimbing dan ketua rombongan.
- Menjaga ketepatan waktu keberangkatan.
- Menghindari aktivitas yang dapat membuat keberangkatan tertunda.
- Tetap menjaga ketenangan ketika menuju kendaraan.
- Memperbanyak doa selama meninggalkan Makkah.
Bagi jamaah travel haji dan umroh, mengikuti jadwal rombongan menjadi hal yang penting. Koordinasi yang baik membantu seluruh jamaah meninggalkan hotel, menuju kendaraan, dan melanjutkan perjalanan sesuai rencana.
Baca Juga: Mengetahui Jenis dan Bacaannya Tahallul Dalam Rukun Haji dan Umrah: Travel Haji dan Umroh
Tips Melaksanakan Tawaf Wada dengan Tenang
Tawaf wada dapat menjadi momen yang sangat emosional. Karena itu, jamaah perlu mempersiapkan diri agar dapat menjalankannya dengan tenang.
Pahami Tata Cara Sebelum Berangkat
Jangan menunggu sampai berada di Masjidil Haram untuk mempelajari tata cara tawaf. Jamaah sebaiknya memahami langkah-langkahnya sejak mengikuti manasik di Tanah Air.
Pemahaman tersebut membuat jamaah lebih mudah mengikuti arahan ketika berada di lokasi.
Jangan Memaksakan Diri
Kondisi Masjidil Haram dapat sangat ramai, terutama pada waktu-waktu tertentu. Jamaah tidak perlu memaksakan diri untuk mendekati Hajar Aswad jika kondisi tidak memungkinkan.
Jamaah tetap dapat melaksanakan tawaf dengan tertib sambil menjaga keselamatan diri dan jamaah lainnya.
Siapkan Doa Sebelum Tawaf
Jamaah dapat menyiapkan beberapa doa sebelum berangkat ke Masjidil Haram. Dengan begitu, jamaah dapat menggunakan waktu tawaf untuk berdoa dengan lebih terarah.
Jamaah tidak harus membaca doa yang panjang. Doa sederhana yang berasal dari hati juga dapat menjadi bagian dari ibadah selama tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.
Ikuti Arahan Pembimbing
Jamaah yang mengikuti program travel haji dan umroh dapat memanfaatkan pendampingan pembimbing ibadah. Jika muncul pertanyaan mengenai tata cara atau kondisi tertentu, jamaah dapat langsung berkonsultasi.
Pendampingan tersebut membantu jamaah memahami rangkaian ibadah dan mengurangi kebingungan selama berada di Tanah Suci.
Tawaf Wada Menjadi Momen untuk Mengingat Perjalanan Ibadah
Tawaf wada bukan sekadar rangkaian terakhir sebelum meninggalkan Makkah. Momen tersebut juga dapat menjadi kesempatan bagi jamaah untuk mengingat kembali perjalanan ibadah yang telah dilalui.
Selama berada di Tanah Suci, jamaah belajar banyak hal melalui berbagai pengalaman. Kesabaran ketika menghadapi kepadatan, kedisiplinan mengikuti jadwal, menjaga ucapan, serta memperbanyak ibadah menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Setelah kembali ke Tanah Air, pengalaman itu dapat jamaah lanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan baik yang muncul selama haji atau umroh dapat terus dijaga agar perjalanan ke Tanah Suci memberikan dampak positif dalam kehidupan.
Dengan demikian, perpisahan dengan Baitullah bukan berarti berakhirnya semangat beribadah. Kepulangan justru dapat menjadi awal untuk mempertahankan kebiasaan baik yang telah terbentuk selama berada di Tanah Suci.
Kesimpulan
Tawaf wada merupakan tawaf perpisahan yang jamaah lakukan ketika hendak meninggalkan Makkah. Tawaf ini memiliki makna penting karena menjadi salah satu momen terakhir jamaah bersama Baitullah sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Jamaah perlu memahami hukum tawaf wada karena para ulama memiliki beberapa pendapat mengenai kedudukannya. Selain itu, jamaah juga perlu mengetahui tata caranya, mulai dari memulai tawaf di arah Hajar Aswad, mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, memperbanyak zikir dan doa, melaksanakan salat dua rakaat jika memungkinkan, hingga bersiap meninggalkan Makkah.
Bagi jamaah travel haji dan umroh, persiapan yang baik dapat membantu menjalankan tawaf wada dengan lebih tenang dan penuh penghayatan. Momen perpisahan dengan Baitullah juga dapat menjadi kesempatan untuk bersyukur, memohon ampunan, dan berharap agar Allah SWT kembali memberikan kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci.
Jika Anda sedang mempersiapkan perjalanan ibadah, Dago Wisata siap membantu memberikan informasi dan pendampingan perjalanan haji dan umroh agar jamaah dapat menjalani setiap rangkaian ibadah dengan lebih nyaman, terarah, dan tenang.
Lihat Sekarang: Paket Haji dan Paket Umrah Dago Wisata
